2.
Surat dari
Tanah Rata

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas metus lorem, pellentesque rutrum felis nec, ullamcorper congue nulla. Morbi molestie sit amet mauris nec dignissim.

Alfan Daulau bekerja sebagai guru honorer untuk mata pelajaran ba­hasa Inggris. Orang­-orang di Naira memanggilnya “cinta”, dan Alfan menyenangi panggilan itu. Suatu kali, Bapak Cinta membawa saya me­nemui murid­-muridnya di SMP Tanah Rata. Di sekolah yang berteng­ger di bibir tebing ini, dia mendaulat saya sebagai guru dadakan.

Murid­-murid duduk tertib di ruang kelas. Mereka mengeluar­kan kertas dari laci dan menatap saya bak sekelompok wartawan yang hendak mewawancarai seorang terpidana. Hari ini, saya diminta men­gajar sastra, sebuah mata pelajaran yang kerap diabaikan oleh kuriku­lum pendidikan.

Di ruang kelas yang gerah, saya meminta para siswa menuliskan sepucuk surat berisi puisi, cita­-cita, atau cerita apa saja tentang ke­ hidupan sehari­hari di Banda. Hendak dialamatkan ke mana surat itu, tak seorang pun dari mereka yang bertanya. Bagai petapa di dalam gua, mereka pun mulai menulis dengan khusyuk.

“Banda yang kucintai,” Adena Lausu membuka kalimat pertamanya. “Ayahku seorang nelayan. Kami dulu punya perahu. Tapi sekarang ayah di Jakarta mencari uang,” tulis siswa lainnya, Mega Laja Hardin.

The Banda Journal

Kerap berlayar melewati kapasistas, banyak penumpang KM Tidar terpaksa tidur di lantai kapal dengan alas seadanya.

The Banda Journal

Pemandangan dari buritan kapal. Saat cuaca bersahabat, pelayaran dari Ambon menuju Banda memakan waktu setidaknya delapan jam.

“Banda yang kucintai,” Adena Lausu membuka kalimat perta­manya. “Ayahku seorang nelayan. Kami dulu punya perahu. Tapi se­karang ayah di Jakarta mencari uang,” tulis siswa lainnya, Mega Laja Hardin, di awal paragraf.

Siswa lainnya sibuk berjibaku. Ada yang menatap kosong ke jendela. Ada yang mendongak menatap loteng dengan mulut setengah menganga seperti menanti ilham turun dari langit­-langit kelas.

Kertas di tangan Jamaludin La Ali masih kosong. Ia bingung hendak menulis apa. Matanya menerawang ke sana kemari, lalu ter­ paku menatap selembar peta yang melekat di dinding belakang kelas. Peta Indonesia hasil kerajinan siswa itu memuat Banda dengan dimen­si yang diperbesar, dengan garis dan warna yang tegas tapi berantakan. Selembar peta yang sepertinya ingin berteriak, ingin menegaskan bah­wa Banda mesti dituliskan dengan jelas dan tak satu pulaunya pun yang boleh luput: Pulau Naira, Banda Besar, Gunung Api, Rosengain, Pisang, Ay, Rhun, Manukang, Nailaka, Karaka, Batu Kapal, hingga Manuk. Barisan pulau yang bisa tercium aromanya sebelum terlihat, yang tersuruk di antara belasan ribu pulau, yang dikungkung ombak dan badai ganas.

The Banda Journal

Bandara satu-satunya di Kepulauan Banda hanya ada di Pulau Naira. Dengan landasan pacu yang hanya sepanjang 900 m, cuma pesawat perintis berkapasitas 12 kursi yang dapat mendarat di sini. Penerbangan dari Ambon dilayani dua kali dalam seminggu, tentunya jika kondisi cuaca dan musim memungkinkan.

Bandara satu-satunya di Kepulauan Banda hanya ada di Pulau Naira. Dengan landasan pacu yang hanya sepanjang 900 m, cuma pesawat perintis berkapasitas 12 kursi yang dapat mendarat di sini. Penerbangan dari Ambon dilayani dua kali dalam seminggu, tentunya jika kondisi cuaca dan musim memungkinkan.

The Banda Journal

Jalan aspal penghubung kampung-kampung di Banda Besar, pulau terbesar di Kepulauan Banda. Pada 2016 hanya ada tujuh mobil di pulau ini.

Jalan aspal penghubung kampung-kampung di Banda Besar, pulau terbesar di Kepulauan Banda. Pada 2016 hanya ada tujuh mobil di pulau ini.

The Banda Journal

Riska dan Dewi, pelajar sekolah dasar di Pulau Rhun.

Riska dan Dewi, pelajar sekolah dasar di Pulau Rhun.

“Anda jangan begitu saja percaya pada peta buatan siswa ini,” Bapak Cinta mengingatkan. Luas total Kepulauan Banda hanya 172 kilometer persegi—kira­-kira seperempat luas Jakarta—tetapi para siswa memang menggambarkannya berkali-­kali lebih besar dari ukuran sebenarnya.

Dari 12 pulau penyusun Banda, lima di antaranya tidak berpenghuni: Manukang, Nailaka, Karaka, Batu Kapal, dan Manuk. Dilihat dari udara, kepulauan ini menyerupai daun­-daun rontok yang berserakan di atas seprai biru. Di antara gugusan pulau itu, sebuah gunung menjulang setinggi 667 meter. Gunung Api, vulkan yang menyeruak dari dasar laut, terakhir meletus pada 1988. Guratan-­gu­ratan luka masih membekas di sebagian tubuhnya.

“Aku ingin pergi ke luar negeri jadi turis, terbang dengan pe­sawat,” tulis Rani. Di luar sekolah, landasan udara terbentang lapang, sepi, kosong tak didarati pesawat. Penerbangan ke Naira masih masuk kategori “perintis,” istilah aviasi di Indonesia untuk rute pelosok, un­tuk rute yang terus “dirintis,” entah sampai kapan. Dalam praktikn­ya, rute perintis kurang lebih berarti: pesawatnya mungil dan semua penumpang wajib ditimbang sebelum terbang. Tak perlu mengharap­kan in-flight entertainment, pramugari yang elok, apalagi bonus poin miles.

Bandara Naira membentang di sisi timur pulau. Maskapai yang terbang ke sini bergonta­-ganti hampir saban tahun mengikuti hasil tender. Merpati, Aviastar, Susi Air, dan Airfast adalah beberapa yang pernah melayani rute ke Naira. Namun ada kalanya tak satu pesawat pun singgah lantaran proses tender dibuka usai kontrak berakhir. Di momen seperti itu, Banda praktis hanya bisa diakses melalui jalur laut dengan kapal cepat yang beroperasi dua kali per pekan atau kapal Pelni dua kali per bulan.

The Banda Journal

Pohon pala di salah satu perkebunan di Pulau Banda Besar. Hingga kini, sebagian besar lahan di pulau ini masih dimanfaatkan untuk berkebun pala.

The Banda Journal

Seorang warga Pulau Rhun sedang tidur siang. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh warga Kepulauan Banda selain bekerja di perkebunan pala atau menjadi nelayan.

The Banda Journal

Nelayan pulang melaut, Pulau Rhun.

Nelayan pulang melaut, Pulau Rhun.

Letter_Banda_03_01

Pertama kali saya datang ke Banda pada tahun 2014, saya diminta untuk mengajar di SMP Tanah Rata. Saya datang dengan begitu banyak keinginan, pertanyaan, atau harapan yang terasa berlebihan. Namun, menyelami ke­hidupan di kepulauan terpencil di tengah lautan ini harus bermula dari satu titik tolak. Dan saya memulainya dari para remaja. Saya ingin tahu apa yang membuat mereka gundah, arti cita­-cita buat mereka, dan apa harapan mereka. Lalu, bagaimana seandainya remaja­-remaja ini berkisah ten­tang kehidupan mereka sendiri di Banda? Maka kami sepa­kat para siswa harus menulis sepucuk surat. 

“Aku ingin pergi ke luar negeri jadi turis, terbang dengan pe­sawat,” tulis Rani. Di luar sekolah, landasan udara terbentang lapang, sepi, kosong tak didarati pesawat.

“Laut Banda pernah memakan dua atau tiga orang yang menye­lam di bagian bawah lampu biru tempat masuk­ keluarnya kapal,” tulis Rasmi Lamadji. Kecuali landasan udara, Banda tidak memiliki jalan aspal lebar, dan kecelakaan lalu lintas adalah peristiwa yang lang­ka. “Pembunuh” paling brutal di sini justru lautan. Laut Banda adalah angkara yang rutin merenggut banyak korban. Selain “dimakan” saat menyelam, seperti tulis Rasmi, orang­-orang tewas akibat nekat melaut di musim badai.

Pertapaan murid­-murid saya buyar oleh suara lonceng yang nyaring. Kini tiba waktunya bagi mereka untuk pulang dan tidur siang. Di Banda, tidur siang adalah kebiasaan hampir setiap orang. Saya pun akan ikut tidur siang, sementara surat-­surat yang ditulis oleh para siswa itu entah akan dilayangkan ke mana dan dengan cara apa. Siang ini tidak ada pesawat yang singgah. Kapal baru akan merapat bebera­pa hari lagi. Banda adalah rumah terpencil dengan pintu-­pintu yang lebih sering terkunci. Banda yang dulu dicari­-cari hingga kini masih susah dikunjungi.

***

Sebelumnya

Selanjutnya (Segera di November)

Hak cipta dilindungi Undang-undang © Jurnal Banda, The Banda Journal 2021