Fotografi dan video oleh Muhammad Fadli
Teks oleh Fatris M

Awal Februari 2014, kapal yang saya tumpangi terseok-seok di tengah lautan. Gelombang mengamuk tanpa ampun. KM Tidar, kapal raksasa berbobot 14.000 ton, bertarung semalam suntuk melawan ombak lautan timur.

Selama berabad-abad, keganasan laut yang saya layari ini terus dicatat dengan nada getir penuh ketakutan. Musim barat belum lunas mengantarkan badai, ombak bagai pendekar mabuk yang mengantam lambung kapal tiada henti. Di dek bawah, bioskop memutar film Captain Phillips yang dibintangi Tom Hanks. Di dek lain, sebuah kelab disinari lampu warna-warni mengeluarkan sayup-sayup suara wanita. Angin di luar bertiup kencang membawa dingin, mengembus panas asap kopi yang dijajakan pedagang asongan. Di salah satu dek ekonomi, dengan jejeran dipan yang dipenuhi keriuhan orang-orang, saya meringkuk bersama rasa mual. KM Tidar masih terus berlayar, tertatih menuju sebuah kepulauan yang dikungkung laut dalam. Inilah perjalanan kapal milik negara kepulauan terbesar di muka bumi, pelayaran ribuan kilometer dengan rute yang banyak. Kepulauan yang saya tuju kini hanyalah salah satu persinggahannya.

“Aroma pulau itu akan tercium sebelum kita bisa melihat daratannya,” tulis Giles Milton dalam Nathaniel’s Nutmeg. Samar-samar, pulau-pulau itu tampak. Pulau-pulau yang konon menebarkan aroma wangi jika kita berlayar ke arahnya melawan angin.

Kepulauan Banda, sebutan kepulauan ini, bagai buih di tengah lautan. Begitu mungil sehingga tanpa modal peralatan navigasi yang memadai nyaris mustahil ditemukan. Laut Banda, yang mendominasi sebagian besar perairan Indonesia timur, memisahkannya ratusan kilometer dari daratan terdekat. Di masa lampau, kapal-kapal berlayar menuju kepulauan ini dengan menggantungkan nasib pada segelintir mualim yang hafal letaknya dan kenal gelagat musim. Salah memilih mualim, berarti satu kaki telah berada di jurang mala petaka.

Sekarang, KM Tidar melepas jangkar di Banda Naira, satu-satunya kota di Kepulauan Banda. Di dermaga pelabuhan yang pendek, kapal tua ini bersandar. Dalam amuk kantuk dan rasa mual, saya melihat ke bawah dari anjungan tertinggi: barang-barang kebutuhan pokok diderek keluar pintu kargo, orang-orang bergerombol menyandang buntalan barang sembari menuruni tangga kapal yang licin.

Di kepulauan kecil yang dikepung laut dalam ini, saya didapuk menjadi guru. Guru sastra. Ini barangkali profesi yang paling tidak menjanjikan di sebuah negara sangsai. Tapi tak apa, di sini saya mengajar sastra.

Di ruang kelas SMP desa Tanah Rata, Banda Naira, murid-murid saya menulis surat dan puisi. Pelajaran Mengarang, begitu mereka menyebutnya. Mereka menulis cerita tentang hidup di kepulauan terpencil ini; sebuah tanah kelahiran yang alangkah susah dijelaskan keberadaannya dalam peta dunia.

Kepulauan Banda bagai noktah samar pada peta Nusantara. Titik-titik kecil dibanding ribuan pulau lain di Indonesia memang seakan tak ada artinya (beberapa peta bahkan tidak menyertakannya sama sekali). Tapi, dari sinilah pelayaran-pelayaran akbar itu bermula. Kepulauan terpencil ini pernah membuat peta dunia diragukan kebenarannya.

Sekarang lihat, murid-murid sedang menulis, begitu khusyuk seperti sekelompok biksu yang tengah bertapa. Matahari pagi telah tinggi, angin bertiup dari barat masih berkelebat, membawa aroma wangi ke ruang kelas.

bandanaira
Litograf pemandangan kota dan kawasan pelabuhan Banda Naira berdasarkan lukisan Josias Cornelis Rappard 1883-1889. Koleksi milik Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda.

“Ayahku seorang nelayan, kami dulu punya perahu. Tapi sekarang Ayah di Jakarta mencari uang,” Mega Laja Hardin memulai paragraf pertamanya. Siswa lainnya sibuk berjibaku, kadang mendongakkan kepala menatap loteng dengan mulut setengah menganga. Seperti menanti ilham turun, merambat dari langit-langit kelas.

Kertas di tangan Jamaludin La Ali masih kosong. Ia masih bingung harus menulis apa. Matanya menerawang ke sana-kemari, kemudian terpaku menatap selembar peta Indonesia seluas satu meter hasil kerajinan para siswa yang terpajang di dinding bagian belakang kelas. Di peta itu Banda digambarkan dengan porsi lebih besar, namanya jelas, lengkap dengan semua gugusan kepulauannya. Pulau-pulau berbau wangi di Timur Jauh, yang tersuruk di antara belasan ribu pulau dan terkungkung oleh gelombang ganas, terlihat agak aneh di peta kerajinan siswa. Peta dengan garis, pewarnaan, dan porsi pulau yang berantakan itu seakan hendak berontak menegaskan bahwa kepulauan ini mesti dilukis jelas dan tak satu pun boleh luput. Di samping peta, foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wakilnya sedang tersenyum, tergantung di dinding. Di antara potret pimpinan bangsa itu, ada gambar burung garuda dengan dada berisi simbol lima butir sila. Mata burung itu menatap tajam ke jendela, sayapnya terentang bagai hendak terbang, melesat menerobos jendela kaca.

“Aku ingin pergi ke luar negeri jadi turis, terbang dengan pesawat,” tulis Rani dalam karangannya.

Di luar sana, lapangan udara terbentang, begitu lapang. Sepi. Noktah-noktah kecil yang buram dengan lapangan udara terhampar kosong tak didarati pesawat terbang (belakangan, pesawat perintis dengan subsidi dari pemerintah terbang kembali menuju kepulauan ini, namun kapasitasnya amat terbatas). Hanya kapal penumpang milik PT. Pelni (KM Tidar dan KM Kelimutu) yang memasukkan Kepulauan Banda sebagai rute tujuan dua kali sebulan. Kapal-kapal lain juga datang, namun dengan jadwal tak menentu.

Dari persinggahan kapal, berbagai kebutuhan dipasok: beras, bahan bakar, rokok, gula, ayam, kertas, panci, pakaian, mesin perahu pabrikan Jepang, hingga telepon genggam buatan China. Semua terjadi jika laut sedang ‘teduh’. Bila musim badai berkelebat ganas hingga mengganggu jadwal pelayaran, maka Banda akan terisolasi dan harga bahan pokok akan melonjak naik. Kepulauan ini, sebagaimana banyak pulau terpencil lainnya di timur Nusantara, seakan hidup di masa yang berbeda.

Kami saling berbagi cerita sampai gerah udara merambat ke dalam ruang kelas. Tak lama, lonceng berbunyi nyaring dari kantor sekolah. Artinya, semua siswa akan pulang untuk tidur siang. Kebiasaan hampir seluruh masyarakat di sini adalah tidur siang—sebuah kebiasaan ‘titipan’ orang asing yang masih terpelihara hingga kini. Tidak hanya tidur siang, bahasa pun begitu. Kata-kata mereka kadang meminjam kosakata kaum penakluk, para penjelajah dari dunia lama. Mereka menyebut pelabuhan sebagai haven, tetaruga untuk penyu, lepe untuk sendok, forok bagi garpu, dan masih banyak lagi.

(bersambung)