The Banda Journal

Banda, sebuah kepulauan terpencil yang kini namanya jarang diingat, adalah panggung peraduan nasib paling awal orang-orang Eropa di Asia. Di sini pula sejarah perekonomian modern digerakkan pada mulanya atas nama perdagangan rempah. Namun di balik itu ia merana. Tergoda keuntungan berlimpah, orang-orang Eropa memberlakukan monopoli perdagangan yang ditegakkan lewat pembantaian massal dan kerja paksa. Fotografer Muhammad Fadli dan penulis Fatris MF berkolaborasi mengisahkan dampak penjajahan dan eksploitasi di Kepulauan Banda yang membekas hingga hari ini.

The Banda Journal merupakan karya dokumenter jangka-panjang tentang Kepulauan Banda, sebuah kepulauan mungil di timur Indonesia yang berperan penting menggerakkan perekonomian global paling awal. Kepulauan yang kaya sekaligus merana. Kepulauan yang menyimpan kisah genosida pertama bangsa Eropa di Asia. Namun dunia melupakannya.

Lima abad silam, Banda—juga beberapa pulau lainnya di kawasan Maluku—begitu dicari keberadaannya oleh para pelaut Eropa. Alasannya adalah rempah-rempah. Di masa itu, Banda merupakan satu-satunya penghasil rempah paling berharga di muka bumi: pala. Berguna sebagai penyedap sekaligus pengawet makanan serta dipercaya dapat menyembuhkan berbagai wabah penyakit, pala menjadi komoditas dengan harga yang susah dibayangkan. Komoditas yang lebih berharga ketimbang minyak bumi hari ini. Barangkali sulit diterima akal sehat bahwa pelayaran orang Portugis mengelilingi Tanjung Harapan dan penemuan Amerika oleh Christopher Colombus terjadi karena mencari tempat asal rempah di Timur Jauh. Namun itu terjadi.

Lantas perburuan rempah di Timur tak hanya mengubah dunia, tapi juga kehidupan masyarakat di Kepulauan Rempah itu sendiri, khususnya Banda dalam cakupan karya dokumenter ini. Atas perburuan tersebut, perusahaan multinasional pertama lahir di muka bumi dan perekonomian global pun bergerak untuk pertama kalinya. Pencarian sumber rempah berujung pada keserakahan dan monopoli perdagangan. Di Banda, atas nama pala, semua jalan ditempuh termasuk kebiadaban. Saat monopoli sampai pada puncaknya para penyelundup menyatroni Banda. Benih pala dibawa secara sembunyi-sembunyi, kapal-kapal mengangkutnya ke berbagai penjuru bumi. Hanya dalam hitungan tahun, harganya anjlok. Ia tak lagi langka. Dan Banda pelan-pelan dilupakan.

The Banda Journal adalah kisah tentang dampak dari penjajahan yang berlarut-larut dan panjang. Juga kisah mereka yang terdepak, tercampak dan ditinggalkan laju zaman. Ini cerita tentang eksploitasi di satu daratan kecil di Indonesia yang maha luas, tentang perbudakan, kebiadaban, juga penampikan. Namun, bagaimanapun juga, kami bukan semata menelusuri jejak masa lalu dengan berbagai referensi dan naskah-naskah lama, tapi juga dengan segala kesadaran akan kondisi sosial masyarakat Banda hari ini. Berkali-kali kami mengunjungi Kepulauan Banda, memotret kehidupannya, melakukan wawancara, hidup di tengah masyarakatnya (bahkan juga mengajar di sekolah-sekolah), dan dikungkung keterisolasiannya. Tentu saja upaya mengoherensikan logika lima abad silam ke pikiran manusia hari ini bukanlah perkara sederhana. Di kepulauan yang kini dilupakan dunia, kami mencoba merangkai kisah serta merekam gambar-gambar dari fragmen masa silam yang berhimpitan dengan masa kini. Banda adalah sebuah pelajaran berharga tentang perjuangan, ketamakan, dan kepedihan. Ini adalah cerita tentang kepulauan yang mengubah dunia, tentang masa lalunya dan hari ini

Saat ini kami tengah menyiapkan buku bagi karya dokumenter ini. Buku dijadwalkan akan terbit pada Oktober 2017. Konten website ini akan diperbarui setelah itu.